Jumat, 15 April 2011

Bom Meledak di Masjid Mapolres


BETAPA tidak berperikemanusiaannya pelaku bom teror di Masjid Mapolres Cirebon. Di saat orang hendak melaksanakan Salat Jumat, bom yang dibawanya meledak sehingga melukai puluhan orang yang hendak beribadah.

Pelaku bom teror itu sendiri diduga tewas seketika. Namun tindakan itu telah merusak makna ibadah dan membuat banyak orang menjadi harus menderita. Kebanyakan dari korban mengalami luka karena serpihan bom dan luka bakar.

Aksi teror dengan menggunakan bom memang sudah kita alami sejak zaman Orde Baru. Namun aksi itu menjadi semacam model setelah serangan teror bom tahun 2002 di Kuta, Bali yang menewaskan tidak kurang dari 220 orang.

Kita telah berupaya sekuat tenaga untuk mencegah dan juga menangkapi para pelaku teror. Gembong-gembong aksi teror bahkan berhasil kita tembak mati. Namun penyakit sosial ini tidak pernah bisa benar-benar kita basmi.

Kita belum tahu apa motif dari serangan teror yang terakhir ini di Mapolres Cirebon. Memang bisa ada dua kemungkinan. Pertama, bom di dalam masjid itu tidak sengaja meledak karena bukan itu sasarannya. Kedua, itu sengaja ditujukan kepada institusi kepolisian yang selama ini membongkar operasi dari kelompok mereka.

Kita tidak ingin berspekulasi dari teror bom kali ini. Biarkan aparat keamanan bekerja untuk mengungkap kasus ini. Hal yang jauh lebih penting kita perhatikan, mengapa kita belum juga berhasil membangun masyarakat yang jauh dari kekerasan. Boleh saja kita tidak puas dengan kehidupan yang kita rasakan, namun ekspresinya jangan dengan cara kekerasan.

Peran untuk mengedukasi masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kita, masyarakat, juga memiliki tanggung jawab untuk bisa mencerahkan masyarakat. Jangan sampai ada pikiran-pikiran yang destruktif berkembang di tengah masyarakat.

Demokrasi memang memberi kebebasan dan hak untuk mengekspresikan perbedaan. Namun ekspresi itu tidak boleh sampai merugikan dan mencelakakan orang lain, apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain.

Inilah yang sangat kita sesalkan dari aksi teror bom. Mereka begitu enaknya mengekspresikan apa yang menjadi keyakinannya, tanpa mau memedulikan apa yang menjadi hak orang lain.

Mereka yang kebanyakan menjadi korban dari serangan teror mempunyai hak untuk hidup tenang, hak untuk dijauhi rasa ketakutan, dan hak untuk tidak menjadi korban kekerasan. Karena serangan teror yang dilakukan orang-orang tertentu, kini banyak orang yang harus menderita.

Untuk itulah tidak ada alasan membenarkan tindakan kekerasan seperti itu. Bahkan kita harus mengatakan teror bom sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, karena yang lebih banyak menjadi orang adalah orang-orang yang tidak tahu apa-apa.

Atas dasar itu kita mendukung sikap tegas terhadap para pelaku kejahatan kemanusiaan. Kita tidak boleh berkompromi dan harus memberikan hukuman yang keras baik kepada pelaku maupun otak di balik tindakan kekerasan itu.

Kita tidak boleh membiarkan ketenangan dan ketenteram rakyat sampai terganggu. Penegakan hukum yang tegas akan membantu memulihkan keadaan dan membuat masyarakat dijauhkan dari rasa was-was.

Sekali lagi demokrasi jangan dibiarkan dipergunakan secara keliru. Saatnya kita mengembalikan keamanan dan ketertiban. Hal-hal yang memungkinkan dipakai untuk tindak kejahatan harus bisa dikontrol oleh negara. Perdagangan bahan kimia yang memungkinkan dipakai aksi kejahatan teror harus dibatasi seminimum mungkin.

Negara mempunyai kewenangan untuk melakukan itu. Demi menyelamatkan kehidupan masyarakat yang lebih besar, negara harus berani menggunakan kewenangan itu. Jangan biarkan negara diganggu oleh kepentingan-kepentingan kelompok yang tidak jelas.

Kita harus berdiri tegak untuk melarang tindakan yang tidak berperikemanusiaan itu. Apalagi sampai dilakukan di dalam rumah ibadah, ketika orang hendak mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Sungguh keterlaluan tindakan yang dilakukan kali ini. Kita harus berani mengatakan, "enough is enough."

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More