Minggu, 01 Mei 2011

ANGAN TERLALU YAKIN KITA TERBEBAS DARI NERAKA

Nabi Musa AS suatu hari sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Nabi Musa AS melihat seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun. Orang itu adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak ahli ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS, Wahai Musa AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun ‘tanpa’ melakukan perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT akan meletakkanku di Surga-Nya? Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah. Nabi Musa AS mengabulkan permintaan orang itu. Nabi Musa AS kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT memberitahukan kepadanya di mana umatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar Neraka-Ku yang paling dalam". Nabi Musa AS kemudian mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah difirmankan Allah SWT kepadanya. Ahli ibadah itu terkejut. Dengan perasaan sedih ia beranjak dari hadapan Nabi Musa AS....
(diambil bagian dari 1001 Kisah Teladan)


Hikmah:
Ahli ibadah 350 tahun akan diletakkan di Neraka, tak bisa dibayangkan. Meskipun pada akhir kisah ‘karena’ suatu sikap dan perbuatannya, Allah kagum dan kemudian berfirman akan menempatkannya ke Surga yang tinggi. Oleh karenanya, umat muslim harus berhati-hati dan waspada meskipun sebanyak apapun dan seshalih apapun ia.

Rumusan penulis berikut dapat terus menyemangati kita semua untuk menyiapkan ‘bekal’. Jangan terlalu yakin kita terbebas dari azab Neraka, yang menjadi masalah adalah:

1. Muhasabah seberapa banyak dosa kita?

(Orang seperti kita ini tentulah banyak dosanya, baik yang “tidak” kita sadari maupun yang disadari. Bahkan sering kali ‘diam’ kita pun berdosa/ menggoreskan luka pada hati seseorang. Makna diam di sini dapat berarti diamnya mulut, tangan, sifat, sikap, tubuh [tindakan], atau kombinasinya. Apalagi dengan ‘tidak diam’-nya kita???!)

2. Jika kita merasa pahala > dosa, seberapa ikhlas dan murnikah amal kita?

(Cukup jelas, namun perlu dicermati bahwa “kita bilang/ merasa kita ikhlas belum tentu ikhlas di sisi Allah”.)

3. Jika kita pun yakin merasa sudah ikhlas, adakah perbuatan kita yang menghalangi sampainya amal kepada-NYA?

(satu contoh: Hadits menyatakan bahwa selama 40 hari amal-amalan kebaikan akan tertolak hanya karena ada ‘sesuap’ makanan haram masuk ke perut seseorang.)

(Perhatikan: “Para shahabat yang mulia dan para tabi’in yang agung. Mereka melakukan apa yang telah dilakukan para pendahulu mereka, tetapi hati mereka merasa KHAWATIR jika ibadah mereka tidak diterima.” Maka selanjutnya berhati-hatilah bahwa banyak hal-hal yang menyebabkan amal kita tidak sampai kepada Allah.)

4. Jika kita merasa sudah ikhlas dan yakin tidak ada perbuatan kita yang menghalangi sampainya amal, maka seberapa banyak orang yang pernah sakit hati/ tersinggung karena kita dan tidak 100% memaafkan kita?

(satu contoh: banyak Hadits Shahih yang menyatakan bahwa jika seseorang berbuat demikian; Pada hari Kiamat kebaikan/ pahalanya akan diberikan kepada orang ini dan itu. Jika kebaikannya sudah habis, kesalahan/ dosa orang yang disakiti akan ditimpakan balik kepadanya. “sungguh sial dan merugi”. Hingga disebut dalam hadits lain bahwa makhluk yang pailit dan paling sial sejagad raya adalah orang yang masuk surga, namun karena kedzalimannya ‘over!’ ia dilempar ke neraka! Itu namanya ‘sial di atas sial di antara orang-orang sial’)

5. Kita semua pasti sudah berhenti di poin nomor empat atau sebelum itu.

Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya ada diantara kalian seseorang yang melakukan perbuatan orang penguhi Surga, sehingga jarak antara dia dengan Surga tinggal sehasta, tetapi ketentuan (Allah) telah mendahuluinya; maka dia pun melakukan (di penghujung hayatnya) perbuatan orang penghuni Neraka lalu dia memasukinya. Dan sesungguhnya ada di antara akalian seseorang yang melakukan perbuatan orang penghuni Neraka, sehingga jarak antara dia dengan Neraka tinggal sehasta, tetapi ketentuan (Allah) telah mendahuluinya; maka dia melakukan (di penghujung hayatnya) perbuatan orang penguhi Surga lalu dia memasukinya." (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka, untuk poin terakhir ini, jadikanlah ia untuk selalu memohon khusnul khatimah dengan penuh pengharapan, perbanyak istighfar usai mengerjakan shalat maupun di luar shalat, jaga dan perbarui iman dengan dzikir, serta tidak pernah merasa puas dan tenang terhadap semua amal yang kita lakukan.

Makna: Tentunya selain kita memiliki dosa dengan Tuhan, kita pasti punya kesalahan dengan orang lain. Apakah ada jaminan mereka memaafkan kita meskipun kita sudah minta maaf? Tidak ada pula jaminan pasti untuk kita terbebas dari siksa Neraka. JADI, teruslah “cari amal dan bekal sebanyak-banyaknya”, paling tidak untuk menebus dosa-dosa kita.

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Q.S. Huud: 114)

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More