Kamis, 07 Oktober 2010

Mohon Agar Ibu-Bapaknya diberi Rahmat Oleh Allah

“Rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,’ wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku semasa kecil. ‘” (QS. Al-Isra’:24)

Dengan gaya bahasa yang sejuk dan lembut serat tampilan kata bersifat dorongan, Al-qur’an menggali kesadaran jiwa anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Demikian ini karena suatu kehidupan yang selalu berorientasi pada kelangsungan makhluk hidup, senatiasa memberikan wawasan kedepan; kearah anak-cucu, kepada generasi baru, generasi masa depan. Jarang sekali hidup ini mengembalikan pandangan manusia kebelakang; kepada nenek moyang, kearah kehidupan masa silam , ke generasi masa silam. Oleh karena itu, perlu adanya doronagan kuat untuk menggali kedalam nurani anak agar menoleh ke belakang dan melihat ibu bapak mereka.

Ibu-bapak secara fitrah berkeinginan mengasuh dan memperhatikan anaknya. Mereka berkorban apa saja, bahkan dirinya sendiri, demi anak. Ibarat sebatang pohon, ia menjadi rimbun dan menghijau setelah menyerap makanan-makanan yang ada pada biji sampai merekah. Juga laksana anak ayam yang menetas setelah menghisap seluruh isi telur sampai kulitnya saja yang tersisa.

Begitulah anak manusia. Ia menguras kebugaran, kekuatan, dan perhatian ibu-bapaknya sampai mereka menjadi tua renta, sekiranya mereka diberi panjang umur. Walaupun begitu, ibu-bapak tetap merasa tetap bahagia dengan segala pengorbanan yang mereka berikan. Padahal, anak biasanya cepat sekali melupakan semua itu, dan segera melihat kedepan; kepada istri dan anak cucunya. Begitulah kehidupan ini terus berjalan.

Oleh karena itu, ibu-bapak tidak begitu perlu dingingatkan tentang anaknya. Tetapi, anaklah yang memerlukan dorongan kesadaran hati nuraninya agr selalu mengingat kewajiban kepada generasi pendahulu yang sudah rela meneluarkan saripati hidupnya dihisap oleh anaknya sehingga dirinya sendiri menjadi kering. Hal inilah yang menjadi dasar perintah berbuat baik kepada ibu-bapak, dalam bentuk ketentuan wajib. Agar perintah ini dianggap serius, maka disebutkan mengiringi perintah yang tegas untuk beribadah kepada Allah.

Ayat ini kemudian memberikan gambaran suasana kesadaran nurani anak dengan menyinggung kenangan masa kanak-kanak. Suasana ketika dalam buaian rasa cinta dan kasih sayang ibu-bapaknya, “..jika salah seorang diantara mereka berdua atau kedua-duanya sampai lanjut usia dalam pemeliharaanmu..”sebutan kata“usia lanjut” ibu-bapak tentu menimbulkan rasa hormat. Dan sebutan kata “lemah dimasa kecil”, akan memberikan inspirasi tersendiri disini. Kata “di sisimu”, menggambarkan makna perlunya perlindungan bagi ibu-bapak disaat mereka telah lanjut.

“..Maka, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada mereka perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka..”. Inilah tahapan awal dalam memelihara ibu-bapak dengan sikap sopan dan santun, tidak boleh bersikap mengisyaratkan kemarahan atu membuat sedih ibu-bapaknya, apalagi menghina mereka. “..dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”, inilah perangai yang positif yang sanyat tinggi tingkatannya. Yakni, anak dalam berbicara kepada ibu-bapaknya menampilkan sikap hormat dan cinta.

“Rendahkanlah dirimu kepada mereka dengan penuh kasih sayang”, adalah kalimat lembut yang mampu menembus hati nurani yang dalam. Yaitu, rasa kasih sayang yang penuh kelembutan sehingga anak merasa rendah dihadapan ibu-bapaknya. Dia tidak dapat menatap matanya atau menolak perintah mereka. Kata ‘sayap kerendahan’, melukiskan sikap merendah bagaikan burung yang merapatkan kedua sayapnya, tanda tunduk dan patuh kepada ibu bapaknya.

“Dan ucapkanlah, ‘Wahai tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka mendidik aku semasa kecil’”. Bayangan masa lalu yang penuh kelembutan, dan masa kanak-kanak yang lemah dibawah asuhan ibu-bapak. Kini ibu-bapak kembali kemasa kanak-kanak. Mereka perlu perhatian dan rasa kasih sayang. Adanya kesedihan anak untuk mendo’akan mereka supaya Allah berkenan memberikan kasih sayang-Nya kepada mereka, karena kasih sayang adalah lebih luas dan perhatian serta perlindungan-Nya lebih besar. Karena itu, Dia lebih mampu memberikan balasan kepada ibu-bapak atas semua pengorbanan mereka: darah, keringat, dan air mata, yang tidak akan dapat dibalas oleh anak.

Hafidz Abu bakar Al-Bazzar meriwayatkan dari Buraidah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki sedang thawaf sambil menggendong ibunya. Lalu, laki-laki ini bertanya kepada Rasul, ‘Apakah aku telah dapat memenuhi hak ibuku?’ Nabi menjawab, “Tidak, bahkan sama sekali tidak menyamai satu tarikan nafasnya.”

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More